ACTUATING
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Manajemen Dakwah
Dosen
Pengampu : Bp. Saerozi
Disusun oleh :
Dewi
Aisyah .A. (101111011)
FAKULTAS
DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
ACTUATING
I.
PENDAHULUAN
Berbagai kendala dapat dihadapi perusahaan dalam perjalanannya mencapai
tujuan. Gejolak perekonomian, aktivitas pesaing semakin agresif dan berbagai
kesulitan yang menghadang sering kali membuat tujuan yang hendak dicapai
perusahaan menjadi tidak mudah.
Permasalahan yang sama terjadi pada saat perusahaan ingin melakukan perubahan agar lebih sesuai dengan tuntutan pasar. Sumber daya manusia perusahaan yang sudah terbiasa dengan cara lama (old fashion) akan memiliki keengganan untuk berubah (resistant to change),
Permasalahan yang sama terjadi pada saat perusahaan ingin melakukan perubahan agar lebih sesuai dengan tuntutan pasar. Sumber daya manusia perusahaan yang sudah terbiasa dengan cara lama (old fashion) akan memiliki keengganan untuk berubah (resistant to change),
II.
RUMUSAN MASALAH
- Apa Pengertian actuating?
- Apa prinsip pengarahan dalam actuating?
- Bagaimana cara-cara pengarahan dalam actuating?
- Apa saja Tujuan Penggerakan (actuating)?
- Apa fungsi penggerakan(actuating)?
III. PEMBAHASAN
A.
Pengertian
(Pengarahan / Pergerakan)
Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi.
Dalam hal ini, George R. Terry (1986)
mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota
kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai
sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena
para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.[1]
Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating)
tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan,
dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat
melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung
jawabnya.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating)
ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu
jika :
1. Merasa yakin akan mampu mengerjakan,
2. Yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya,
3.
Tidak sedang dibebani oleh
problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting,atau mendesak,
4. Tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan
hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.
hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.
B. PRINSIP-PRINSIP PENGARAHAN
Pengarahan merupakan aspek hubungan antar manusiawi dalam
kepemimpinan yang mengikat para bawahan untuk bersedia mengerti dan
menyumbangkan tenaga kerja efektif serta efesien untuk mencapai tujuan.
Dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena
disamping menyangkut manusia, juga menyangkut berbagai tingkah laku dari
manusia-manusia itu sendiri. Manusia dengan berbagai tingkah laku yang berbeda-beda,
memiliki pandangan serta pola hidup yang berbeda pula. Oleh karena itu,
pengarahan yang dilakukan oleh pimpinan harus berpegang pada beberapa prinsip,
yaitu:
1. Prinsip mengarah pada tujuan
Tujuan pokok dari pengarahan nampak pada prinsip yang menyatakan
bahwa makin efektifnya proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan bawahan
terhadap usaha mencapai tujuan. Pengarahan tidak dapat berdiri sendiri,artinya
dalam melaksanakan fungsi pengarahan perlu mendapatkan dukungan/bantuan dari
factor-faktor lain seperti :perencanaan, struktur organisasi, tenaga kerja yang
cukup, pengawasan yang efektif dan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan
serta kemampuan bawahan.
2. Prinsip keharmonisan dengan
tujuan
Orang-orang bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang mungkn
tidak mungkin sama dengan tujuan perusahaan. Mereka mengkehendaki demikian
dengan harapan tidak terjadi penyimpangan yang terlalu besar dan kebutuhan
mereka dapat dijadikan sebagai pelengkap serta harmonis dengan kepentingan
perusahaan.
Semua ini dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu.
Motivasi yang baik akan mendorong orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya
dengan cara yang wajar. Sedang kebutuhan akan terpenuhi apabila mereka dapat
bekerja dengan baik, dan pada saat itulah mereka menyumbangkan kemampuannya
untuk mencapai tujuan organisasi.
3. Prinsip kesatuan komando
Prinsip kesatuan komando ini sangat penting untuk menyatukan arah
tujuan dan tangggung jawab para bawahan. Bilamana para bawahan hanya memiliki
satu jalur didalam melaporkan segala kegiatannya. Dan hanya ditujukan kepada
satu pimpinan saja, maka pertentangan didalam pemberian instruksi dapat
dikurangi, serta semakin besar tanggung jawab mereka untuk memperoleh hasil
maksimal.
C. Cara Cara Pengarahan
Pada umumnya, pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan
dengan maksud agar mereka bersedia bekerja dengan sebaik mungkin, dan
diharapkan tidak menyimpang dari prinsip-prinsip di muka. Adapun cara-ara
pengarahan yang dilakukan dapat berupa:
a.
Orientasi
merupakan cara pengarahan dengan memberikan
informasi yang perlu agar supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
Biasanya, orientasi ini diberikan kepada pegawai baru dengan tujuan untuk
mengadakan pengenalan dan memberikan pengerian atas berbagai masalah yang
dihadapinya. Pegawai lama yang pernah menjalani masa orientasi tidak selalu
ingat atau paham tentang masalah-masalah yang pernah dihadapinya. Suatu ketika
mereka bisa lupa, lalai, atau sebab-sebab lain yang membuat mereka kurang
mengerti lagi. Dengan demikian orientasi ini perlu diberikan kepada
pegawai-pegawai lama agar mereka tetap memahami akan peranannya. Informasi yang
diberikan dalam orientasi dapat berupa diantara lain :
1. Tugas itu sendiri
2. Tugas lain yang ada hubungannya
3. Ruang lingkup tugas
4. Tujuan dari tugas
5. Delegasi wewenang
6. Cara melaporkan dan cara mengukur prestasi
kerja
7. Hubungan antara masing-masing tenaga kerja,
Dst.
b. Perintah
Perintah merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang-orang yang berada dibawahnya untuk melakukan atau mengulang suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu. Jadi, perintah itu berasal dari atasan, dan ditujukan kepada para bawahan atau dapat dikatakan bahwa arus perintah ini mengalir dari atas ke bawah. Perintah tidak dapat diberikan kepada orang lain yang memiliki kedudukan sejajar atau orang lain yang berada di bagian lain. Adapun perintah yang dapat berupa :
1. Perintah umum dan khusus
Penggunaan perintah ini sangat bergantung pada preferensi manajer,
kemampuan untuk meramalkan keadaan serta tanggapan yang diberikan oleh bawahan.
Perintah umum memiliki sifat yang luas, serta perintah khusus bersifat lebih
mendetail.
2. Perintah lisan dan tertulis
Kemampuan bawahan untuk menerima perintah sangata mempengaruhi
apakan perintah harus diberikan secara tertulis atau lisan saja. Perintah
tertulis memberikan kemungkinan waktu yang lebih lama untuk memahaminya,
sehingga dapat menghindari adanya salah tafsir. Sebaliknya, perintah lisan akan
lebih cepat diberikan walaupun mengandung resiko lebih besar. Biasanya perintah
lisan ini hanya diberikan untuk tugas-tugas yang relatif mudah.
3. Perintah formal dan informal
Perintah formal merupakan perintah yang
diberikan kepada bawahan sesuai dengan tugas/aktivitas yang telah ditetapkan
dalam organisasi. Sedangkan perintah informal lebih banyak mengandung saran
atau dapat pula berupa bujukan dan ajakan.
Contoh perintah
informal antara lain dapat berupa kata-kata:
“apakah tidak lebih baik bilamana saudara menggunakan cara lain”.
“marilah kita mulai mengerjakan pekerjaan ini lebih dulu”, dan
sebagainya.
Perintah formal yang banyak dipakai dibidang militer bersifat
kurang fleksibel dibandingkan dengan perintah informal.
4. Delegasi wewenang
Pendelegasian wewenang
bersifat lebih umum jika dibandingkan dengan pemberian perintah. Dalam
pendelegasian wewenang ini, pemimpin melimpahkan sebagian dari wewenang yang
dimilikinya kepada bawahan.
Kesulitan-kesulitan akan muncul bilamana
tugas-tugas akan diberikan kepada bawahan itu tidak jelas, misalnya
kesulitan-kesulitan dalam menafsirkan wewenang. Ini dapat menimbulkan
keengganan bawahan untuk mengambil suatu tindakan. Sebagai contoh, seorang
Kepala Bagian Pembelian mengadakan perjanjian pembelian dengan pihak penyedia
(supplier) dengan wewenang yang kurang jelas itu, ia akan menanyakan kepada
pimpinan, yang jawabannya belum tentu memuaskan. Hal ini dapat diatasi dengan
membuat suatu bagan wewenang untuk menyetujui perjanjian.
Setelah perencanaan dan pengorganisasian
selesai dilakukan, maka langkah selanjutnya yang perlu ditempuh dalam manajemen
adalah mewujudkan rencana tersebut dengan mempergunakan organisasi yang
terbentuk.Langkah tersebut adalah actuating yang secara harfiah diartikan
sebagai memberi bimbingan namun istilah tersebut lebih condong diartikan
penggerak atau pelaksanaan. Secara praktis fungsi actuating ini merupakan usaha untuk menciptakan
iklim kerjasama diantara staf pelaksana program sehingga tujuan organisasi
dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Berikut ini adalah beberapa elemen pengarahan
dalam manajemen :
a. coordinating
Koordinasi adalah
fungsi yang harus dilakukan oleh seorang manajer agar terdapat suatu komunikasi
atau kesesuaian dari berbagai kepentingan dan perbedaan kepentingan
sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai .
b.
motivating
Memberi motivasi kepada
karyawan merupakan salah satu elemen penting dalam manajemen perusahaan, dengan
memberikan fasilitas yang bagus dan gaji yang cukup maka kinerja para karyawan
dalam perusahaan pun akan optimal.
c.
comunication
Komunikasi antara para
pimpinan dan karyawan sangat diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Dengan menjalin komunikasi yang baik maka akan menimbulkan suasana kerja yang
kondusif di perusahaan dan akan menumbuhkan teamwork atau kerjasama yang baik
dalam berbagai kegiatan perusahaan.
d. commanding
Dalam memberi
perintah pun seorang atasan tidak bisa seenaknya, tetapi harus memperhitungkan
langkah – langkah dan resiko dari setiap langkah yang para atasan itu ambil
karena setiap keputusan dan langkah akan memberi pengaruh bagi perusahaan.
Dengan pengarahan yang baik dari para atasan
dan tujuan , visi dan misi yang jelas dari suatu manajer perusahaan dapat
menimbulkan efek yang positif untuk perusahaan itu sendiri, antara lain
teamwork yang baik dan dapat memunculkan decision maker yang bagus. Karena
decision makin dan teamwork dalam suatu perusahaan adalah kunci kesuksesan
suatu perusahaan untuk mencapai goal atau tujuan perusahaan seefektif dan
seefisien mungkin.
Fungsi fundamental ke tiga dalam perusahaan
setelah menata perencanaan dan pengorganisasian adalah bagaimana cara
menggerakan manusia secara sukarela untuk melakukan aktiftas personal yang
sesuai dengan tujuan perusahaan. “Menggerakan merupakan usaha untuk menggerakan
anggota kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berkeinginan dan berusaha
untuk mencapai sasaran perusahaan yang bersangkutan dan anggota perusahaan
tersebut oleh karena anggota itu ingin mencapai sasaran tersebut” (Terry:2006:313)
Fungsi pundamental ketiga dari fungsi
manajerial adalah menggerakan orang untuk melaksanakan aktifitas organisasi
sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Menggerakan jelas membutuhkan adanya
kematangan pribadi dan pemahaman terhadap karakter manusia yang memiliki
kecenderungan berbeda dan dinamis, sehingga membutuhkan adanya sinkronisasi.
Sehingga bisa dikatakan fungsi actuating jauh lebih rumit oleh karena harus
berhadapan langsung sehingga fungsi leadershif begitu kentara sekali dibutuhkan
sekalipun semuanya melalui proses planning dan pengorganisasian terlebih dulu.
Premis yang begitu fenomenal diungkapkan Doghlas McGregor bahwa
seorang karyawan selalu diasumsikan negatif dan positif :
Teori X yang menganggap
a. Kebanyakan karyawan yang
bekerja pada suatu perusahaan bekerja sesedikit mungkin dan mereka umumnya
menentang perubahan,
b. Kebanyakan karyawan harus
dibujuk.dipersuasi, diberikan penghargaan, diuhkum dan diawasi untuk mengubah
kelakuan mereka agar sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan organisasi.
c. Kebanyakan karyawan ingin
diberikan pengarahan oleh seorang menejer formal dan dimana ada kesempatan
mereka berusaha untuk menghindari tanggungjawab.
Teori Y menyatakan :
a. Kebanyakan karyawan memiliki
kapasitas untuk menerima tanggungjawab dan potensi untuk pengembangan tetapi
manajemen melalui tindakan-tindakannya harus membuat mereka sadar tentang
sifat-sifat tersebut.
b. Kebanyakan karyawan ingin
memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial, kebutuhan akan pengahrgaan dan kebutuhan
untuk mengaktualisasikan diri sendiri.
D. Tujuan Penggerakan
Tujuan fungsi aktuating ( penggerakan ) adalah
:
1. Menciptakan kerjasama yang
lebih efisien
2. Mengembangkan kemampuan dan
keterampilan staf
3. Menumbuhkan rasa memiliki
dan menyukai pekerjaan
4. Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang
dapat meningkatkan motivasi dan prestasi kerja staf
5. Membuat organisasi
berkembang lebih dinamis
E. Fungsi penggerakan
Fungsi aktuasi haruslah
dimulai dari diri manager dengan menunjukkan kepada staf bahwa dia memiliki
tekat untuk mencapai kemajuan dan peka terhadap lingkungannya. Ia harus
memiliki kemampuan kerjasama, harus bersikap obyektif.
a.
Koordinasi kegiatan
Untuk setiap kegiatan yang akan diterapkan
sesuai rencana, manajemen harus memastikan bahwa semua kegiatan sebelumnya
telah dilaksanakan tepat pada waktunya. Untuk mengkoordinasi pekerjaan tim
kesehatan, pekerja kesehatan yang bertugas harus :
1. Mengkoordinasikan fungsi
para aggota tim kesehatan
2. Mengkoordinasikan kegiatan
3. Menyampaikan keputusan
Penempatan orang dalam jumlah,
waktu dan tempat yang tepat meliputi mengorganisasikan, mengarahkan dan
mengawasi.
Mobilisassi dan alokasi sumber
daya fisik dan dana yang diperlukan
meliputi :
1. Pemantauan dan pengawasan
2. Logistik ( perolehan, penyaluran,
penyimpanan, pengiriman, penyebaran
dan pengembalian barang )
3. Akuntasi
4. Organisasi
Keputusan yang berkenaan dengan
informasi yang diperlukan Berkaitan dengan pembuatan keputusan secara
umum dan khusus dengan koordinasi kegiatan, manajemen tenaga kerja dan sumber
daya selama penerapan.
Faktor – faktor penghambat
fungsi penggerakan :
Kegagalan manajer dalam menumbuhkan motivasi
stafnya, hal ini terjadi karena manajer kurang memahami hakekat perilaku dan
hubungan antar manusia. Seperti konsep perilaku manusia yang dikemukakan oleh
Maslow, dinegara berkembang yang menjadi prioritas adalah kebutuhan fisik, rasa
aman, dan diterima oleh lingkungan sedangkan dinegara maju kebutuhan yang
menonjol adalah aktualisasi diri dan self esteem. Perbedaan tersebut juga akan
mempengaruhi etos kerja dan produktifitas kerja.
Faktor – faktor pendukung
fungsi penggerakan :
Faktor-faktor yang diperlukan dalam
penggerakan, diantaranya :
1. Kepemimpinan (Leadership)
Kepemimpinan adalah kegiatan untuk
mempengaruhi orang-orang agar berusaha dengan ikhlas untuk mencapai tujuan
bersama. Seorang manajer yang tidak memiliki kepemimpinan tidak akan mampu
untuk mempengaruhi bawahannya untuk bekerja, sehingga manajer yang demikian
akan gagal dalam usahanya. Sifat-sifat kepemimpinan menurut Harold koontz,
diantaranya sebagai berikut :
a. Memiliki kecerdasan orang-orang
yang dipimpin
b. Mempunyai perhatian terhadap kepentingan
yang menyeluruh
c.
Memiliki kelancaran dalam berbicara
d. Matang dalam berpikir dan emosi
e.
Memiliki dorongan yang kuat dari dalam untuk memimpin
f.
Memahami/menghayati kepentingan kerja sama.
2. Sikap dan Moril (Attitude
and Morale)
Sikap ialah suatu cara memandang hidup, suatu
cara berpikir, berperasaan dan bertindak. Oleh karena itu sikap manajer akan
berbeda-beda sesuai dengan pola hidupnya. Beberpa sikap manajer diantaranya
yaitu :
(a). Sikap feudal (feudal attitude)
Manajer yang mempunyai sikap cara berpikir, berperasaan dan
bertindak sesuai dengan pola-pola kehidupan feodalisme, yaitu suka terikat oleh
aturan-aturan tertentu yang telah teradat dan selalu ingin penghormatan yang
serba lebih. Dengan demikian dalam masyarakat feudal dimana sikap anggota
masyarakat sesuai dengan pola hidup feodalisme akan sukar lahir kepemimpinan
demokratis dariad para manajer, mengingat manajer tersebut hidup dari
masyarakat feudal.
(b). Sikap Kediktatoran (Dictatorial
attitude).
Manajer yang bersikap kediktatoran akan berpikir berperasaan dan
bertindak sebagai dictator yang mempunyai kekuasaan mutlak, sehingga bawahan,
pekerja akan menjadi sasaran daripada kekuasaannya.
3. Tata hubungan
(Communication)
Komunikasi membantu perencanaan managerial
dilaksanakan dengan efektif, pengorganisasian managerial dilakukan dengan
effektif, penggerakan managerial diikuti dengan efektif dan pengawasan
diterapkan dengan efektif. Dalam melakukan komunikasi dalam manajemen ada
beberapa macam diantaranya :
(a). Komunikasi intern
yaitu komunikasi yang dilakukan dalam organisasi itu sendiri baik
antara atasan dengan atasan atau bawahan dengan bawahan atau antara atasan
dengan bawahan atau sebaliknya.
(b). Komunikasi Ekstern
yaitu komunikasi yang dilakukan keluar organisasi.
(c). Komunikasi Horizontal
yaitu komunikasi yang dilakukan baik intern maupun ekstern antar
jabatan yang sama.
(d). Komunikasi Vertikal
yaitu komunikasi yang dilakukan dalam intern organisasi antara
atasan dan bawahan atau sebaliknya dalam suasana formal.
4. Perangsang (Incentive)
insentif ialah sesuatu yang menyebabkan atau
menimbulkan seseorang bertindak.
5. Supervisi (Supervision)
Supervisi dalam bahasa Indonesia disebut juga
dengan pengawasan, sehingga suka timbul kekacauan pengertian dengan kata
pengawasan sebagai terjemah dari kata control. Menurut Terry Supervsi ialah
kegiatan pengurusan dalam tingkatan organisasi dimana anggota manajemen dan
bukan anggota manajemen saling berhubungan secara langsung. Dengan demkian
tugas supervisor cukup berat karena ia harus dapat menemukan
kesalahan-kesalahan dan memperbaikinya, serta memberi petunjuk untuk
menyelesaikan sesuatu pekerjaan dan memberi nasehat-nasehat kepada pegawai yang
mengalami kesulitan.
6. Disiplin (Discipline)
Disiplin ialah latihan pikiran, perasaan,
kehendak dan watak untuk melahirkan ketaatan dan tingkah laku yang teratur.
Jenis disiplin ada dua :
1. Self Imposed discipline (disiplin yang timbul dengan
sendirinya).
2. Command Discipline (Disiplin berdasarkan
perintah).
Hal – hal yang perlu diperhatikan manajer
dalam fungsi penggerakan :
1. Manajer harus bekerja lebih produktif
2. Manajer perlu memahami ilmu psikologi, komunikasi, kepemimpinan
dan sosiologi
3. Manajer harus mempunyai tekat untuk mencapai kemajuan dan peka
terhadap lingkungan
4. Manajer harus bersikap obyektif
IV. KESIMPULAN
Pencapaian tujuan perusahaan sering kali tidak
dapat dilakukan dengan mudah. Berbagai kendala dapat dihadapi perusahaan dalam
perjalanannya mencapai tujuan. Gejolak perekonomian, aktivitas pesaing semakin
agresif dan berbagai kesulitan yang menghadang sering kali membuat tujuan yang
hendak dicapai perusahaan menjadi tidak mudah.
Permasalahan yang sama terjadi pada saat
perusahaan ingin melakukan perubahan agar lebih sesuai dengan tuntutan pasar.
Sumber daya manusia perusahaan yang sudah terbiasa dengan cara lama (old
fashion) akan memiliki keengganan untuk berubah (resistant to change), karena
tujuan baru perusahaan yang ingin dikejar masi terlalu samar. Sehingga mereka
khawatir perubahan tersebut hanya akan menimbulkan berbagai dampak yang
merugikan bagi kepentingan karyawan.
Oleh karena itu, dalam
menghadapi situasi-situasi tersebut di atas, perusahaan membutuhkan beberapa
fungsi, salah satunya adalah fungsi Aktuating. Sehingga diharapkan dengan
berjalannya fungsi actuating ini, kelancaran dalam operasional manajemen dapat
berlangsung dengan baik.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami
buat, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini, semoga makalah kami bermanfaat bagi kita semua, amin.
DAFTAR PUSTAKA
Jones, Gareth R. Organizational
Theory : Text and Cases,Addison Wesley, 1995
Robbins, Stepehen P. Managing
Today, 2nd Ed, Prentice Hall, 2000